PPDB

Picture: https://www.mssociety.org.uk

Tidak satu atau dua mulut nan kami dengar bercakap perihal luar biasanya pendaftaran murid baru di tahun 2019 ini. Yang acap kami dengar di sekitar kami ialah “Sekolah kali ini memang luar biasa tuan, dahulu awak pergi seorang mendafarkan diri ke sekolah. Kini, orang tua nan pening kepalanya memikirkan pendaftaran dan pergi ke calon sekolah anaknya untuk mendaftarkan si sibiran tulang..”

Namun kata-kata tersebut terasa luar biasa tatkala berasal dari lidah seorang cikgu. Karena nan dibuat pening kepala tak hanya para orang tua murid melainkan juga para guru yang mengurus penerimaan murid baru itu.

Muncul pertanyaan sedih di benak kami “Bagi anak nan tak lagi memiliki orang tua macam mana pulakah nasibnya itu?”

Dan rupanya tak hanya itu, kini, setelah dua setengah jam lewat tengah hari, seorang kawan perempuan kami sibuk menulis berkas-berkas penerimaan milik anak gadisnya nan diterima di salah satu sekolah es em a ternama di bandar kecil kami. Cukup banyak lembaran nan mesti diisinya, tak hanya data anak melainkan data diri dan suaminya juga ditanya.

“Bukankah nan mengisi semestinya Si Upiak, kak?” tanya kami heran

Sambil tersenyum dipaksakan ia menjawab bergumam tak jelas, tak kami tanyai lagi karena kami yakin demikianlah wujud kasih sayang seorang ibu. Walau kami tak sependirian dengan dirinya karena anak mesti diajari sedari kini tentang kesusahan, perjuangan, kesabaran, dan usaha.

Disini kami menyadari dua kenyataan bertolak belakang tatkala mengenang masa lalu. Dahulu kalau hendak sekolah mesti membayar namun lepas itu tak ada lagi, dan proses penerimaan dan pendaftarannya tak pula sampai menyusahkan orang tua atau wali murid. Kini, tuan sendirilah bagaimana keadaan nan berlaku.

Ada orang nan merendahkan masa lalu, mencemooh bahwa masa lalu ialah masa terbelakang dan dipenuhi kebodohan sedangkan masa sekarang ialah masa penuh dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan. Namun orang nan diterangi hati dan dipenuhi kebijaksanaan tentulah memiliki pandangan tersendiri.

Tatkala kami tanyakan kepada kawan kami tentang uang sekolah ia menjawab “Kalau hendak mendapat sekolah gratis, pergilah tuan ke Pulau Seberang Bagian Timur, gratis disana..”

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: